Kumpulan Prosa Refleksi
-
Merenungkan Panggilan dalam Keheningan
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan mahasiswa, ada saat-saat yang menghendaki kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan perjalanan yang telah dilalui. Pertanyaan besar pun muncul: Mengapa kita memilih jalur ini? Apakah ini benar-benar panggilan hati nurani atau sekadar kebetulan? Dalam keheningan malam yang sunyi, saya menemukan jawaban yang selama ini saya cari. Bukan dalam kata-kata besar atau pencapaian yang megah, tetapi dalam senyuman kecil dari mereka yang telah kita bantu. Dalam air mata yang kita wipes dari wajah-wajah yang terlupakan. Inilah panggilan sejati - bukan untuk menjadi luar biasa, tetapi untuk menjadi presence yang berarti bagi sesama. Panggilan ini bukan tentang mencapai puncak kejayaan duniawi, melainkan tentang berjalan bersama mereka yang membutuhkan. Tentang menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang memberi harapan di tengah kegelapan. -
Menghadapi Badai dengan Senyuman
Hidup ini penuh dengan badai yang tak terduga. Kadang datang dalam bentuk kegagalan akademik, kadang dalam bentuk perpisahan yang menyakitkan, kadang dalam bentuk keputusan yang sulit diambil. Namun satu hal yang saya pelajari: bagaimana kita merespons badai itu yang menentukan siapa kita sebenarnya. Dalam perjalanan kaderisasi di PMKRI, saya belajar bahwa resilience bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang selalu bangkit setiap kali kita jatuh. Tentang menemukan kekuatan dari komunitas ketika kita merasa lemah. Tentang berbagi beban dengan saudara-saudara seiman ketika beban terasa terlalu berat. Hari ini, ketika badai menghampiri, saya memilih untuk tersenyum. Bukan karena saya tidak merasakan sakit, tetapi karena saya percaya bahwa setelah setiap badai pasti ada pelangi yang menanti.